https://journal.al-matani.com/index.php/jkih/issue/feed JKIH : Jurnal Kajian Ilmu Hukum 2024-02-29T12:29:02+07:00 Dr. Rosyidi Hamzah, S.H., M.H. jkihukum@gmail.com Open Journal Systems <p>JKIH : Jurnal Kajian Ilmu Hukum </p> https://journal.al-matani.com/index.php/jkih/article/view/789 LEGAL PROTECTION OF CHILDREN AS VICTIMS OF SEXUAL CRIMES COMMITTED BY PERSONS WITH DISABILITIES 2024-01-15T11:52:01+07:00 Earlyn Rinani 20912059@students.uii.ac.id <p>Children as the younger generation are the greatest wealth for the family, society and nation. They are components that have a big responsibility in determining whether the country will experience progress or decline. Article 28 B paragraph (2) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia states that "Every child has the right to survival, growth and development and the right to protection from violence and discrimination". Sexual violence is a form of violence that can occur both in public and at home. Individuals who are often victims of sexual violence cases are usually women and children, who are often considered to be in a weaker position. Perpetrators of sexual crimes often target children as victims because they feel that children will not understand that these actions are against the law, or because they think children will not dare to resist.The research used in this scientific paper is a type of normative juridical research, a legal research method that involves secondary data analysis or literature study. Persons with disabilities who are involved in sexual crimes can be accused if there is sufficient evidence to support the crime. This means that the perpetrator's status will change from suspect to defendant when sufficient evidence is met. The reasons for child protection are very reasonable because children are individuals who have not yet reached physical and mental maturity.</p> 2024-02-29T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 JKIH : Jurnal Kajian Ilmu Hukum https://journal.al-matani.com/index.php/jkih/article/view/832 KEDUDUKAN HAK WARIS ANAK YANG MASIH DALAM KANDUNGAN DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM 2024-02-29T12:21:39+07:00 Muhibuddin Zaini muhibuddinzaini@law.uir.ac.id <p>Masalah harta warisan dapat saja menjadi sumber permasalahan ataupun sengketa dalam sebuah keluarga, terutama mengenai permasalahan kedudukan anak dalam kandungan selaku ahli waris, sebab apabila seorang wafat dunia, sementara itu ia meninggalkan kerabat yang mengandung, misalnya istri (janda), ibu, anak perempuan, menantu perempuan, saudara wanita serta yang lainnya, sehingga terdapat permasalahan dalam pembagiannya yang perlu dituntaskan khusunya dalam pandangan hukum waris islam. Penelitian ini membahas tentang kedudukan anak yang masih dalam kandungan sebagai ahli waris beserta pembagiannya kepada anak yang masih dalam kandungan dalam prespestif hukum waris Islam. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini berjenis penelitian hukum normatif dimana pengumpulan data dilakukan dengan cara memperlajari bahan kepustakaan seperti Al-Qur"an, Hadis, dan Komplikasi Hukum Islam. Sedangkan dilihat dari sifatnya adalah berbentuk analistis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa hukum waris islam berpandangan kedudukan anak yang berada di dalam kandungan akan memperoleh harta warisjikalau terpenuhi syarat-syaratnya. Di antaranya, anak tersebut terlahir dengan kondisi hidup sebagaimana terkandung dalam al-Qur"an surat An Nisa/4: 11, An Nisa Ayat/4: 12, An Nisa/4: 176; dan surat Al-Baqarah/2: 233. Sedangkan pembagiannya terdapat tiga cara, yaitu: Pertama, menantikan sesudah bayi tersebut telah lahir untuk mengetahui jenis kelaminnya. Kedua, melaksanakan pembagian tanpa menunggu kelahiran anak dalam kandungan untuk seorang diri. Ketiga, pembagian anak yang lahir berjenis laki-laki tidak akan mendapat warisan karena sudah dibagikan sebelumnya oleh para ahli waris dan jika anak tersebut terlahir perempuan maka memperoleh bagian 1/6 untuk penyempurnaan 2/3 bagian dari saudara perempuan sekandung.</p> 2024-02-29T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 JKIH : Jurnal Kajian Ilmu Hukum